A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: date(): It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Jakarta' for 'WIT/7.0/no DST' instead

Filename: models/content_model.php

Line Number: 84

PT.Trikarsa Sempurna Sistemindo | Firewall Fortinet Tangkis Serangan Hacker

Firewall Fortinet Diklaim Ampuh Tangkis Serangan Hacker

Jakarta - Makin seringnya serangan cyber terjadi memacu para pelaku industri keamananan internet untuk berinvonasi, seperti yang dilakukan Fortinet. Konon produk terbaru mereka ini ampuh untuk menangkis serangan hacker.

Para penjahat cyber biasanya menggunakan berbagai cara untuk melakukan aksinya, namun teknik yang paling sulit dihindari adalah serangan berbasis Distributed Denial of Service Attacks (DDoS).

Jenis serangan ini biasanya dipakai untuk melumpuhkan sebuah sistem. Bahkan belum lama ini ada seorang peretas pintar yang berhasil mengacaukan jaringan internet di Eropa dengan teknik tersebut, uniknya lagi ia melakukan aksinya hanya dengan bermodal laptop dan smartphone di dalam mobil.

Melihat risiko yang begitu besar dari kasus tersebut Fortinet merasa perlu ada tindak lanjut nyata untuk mencegah aksi serupa terjadi, misalnya dengan menggelontorkan produk terbaru mereka yang diklaim bisa menangkis serangan DDOS.

FortiWeb 5, merupakan sistem operasi dengan berbagai fitur keamanan terkini, termasuk kemampuan untuk melakukan identifikasi sumber traffic dari sebuah aplikasi jaringan. 

Hal ini dipercaya sangat berguna untuk membedakan antara sumber yang resmi dengan sumber yang berbahaya, sehingga para administrator bisa melakukan tindak pencegahan saat ada penjahat yang berupaya menyusup.

Selain itu FortiWeb memiliki kemampuan untuk mendeteksi keabsahan permintaan mesin pencari yang sudah dikenal, scanner, crawler, dan perangkat lainnya yang berbasis threshold. 

Kemampuan ini dibuat untuk memperluas identifikasi bot dan cakupan analisa yang sebelumnya ada padaFortiGuard IP Reputation service, sistem untuk mengawasi jenis-jenis IP yang tercemar atau menunjukkan kejanggalan.

"Tidak hanya memperkenalkan perlindungan lebih cerdas terhadap 10 ancaman teratas Open Web Application Secuirty Project (OWASP), kami juga memberikan perangkat baru yang mengunggulkan mesin penyeimbang beban aplikasi untuk mendistribusikan traffic dan muatan route di seluruh penyedia jaringan," ujar John Maddison, vice president of marketing Fortinet. 

Nah, berikut adalah 3 fitur kunci FortiWeb 5 yang dijanjikan bisa menangkis berbagai teknik serangan hacker. Seperti yang tertulis dalam keterangan yang diterima detikINET, Minggu (26/5/2013).

Identifikasi Mesin Pencari 
Sekitar 30% lalu lintas permintaan data di aplikasi jaringan berasal dari mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo dan lain-lain, ditambah dengan proliferasi serangan otomatis, botnet, zombie dan serangan DDoS terencana.

Dilihat dari itu maka kebutuhan untuk dapat mengidentifikasi sumber serta tujuan beragam aplikasi tersebut menjadi sangat penting. FortiWeb 5 memiliki kemampuan tersebut sehingga perusahaan dapat melindungi dan mengoptimalisasi aplikasi jaringan mereka. 

Fitur ini juga terhubung dengan lapisan identifikasi kendali bot terbaru, yang secara proaktif mengidentifikasi apakah sebuah in-bound traffic berasal dari mesin pencari resmi atau botnet, proxy anonim, sumber jahat atau serangan otomatis berskala besar.

Bot Dashboard
Sebagai pelengkap untuk lapisan kendali bot, bot dashboard baru ini akan menyediakan visualisasi bagi para administrator mengenai traffic yang menyerang aplikasi jaringan mereka sehingga dapat segera diidentifikasi apakah bot yang menyusupi aplikasi tersebut adalah mesin pencari yang dikenal atau pemindai yang berbahaya. 

Real Browser Enforcement
Sebagai bentuk peningkatan perlindungan DoS pada lapisan aplikasi, FortiWeb 5 meningkatkan kemampuan respon Real Browser Enforcement agar dapat memberi validasi permintaan dengan lebih baik, memastikan keabsahan pengguna serta menyingkirkan perangkat untuk melakukan serangan DDoS secara otomatis.

(Sumber: DetikNet, detik.com)